Tahu Kocek: kuliner gurih yang 'akhirnya' menjadi makanan khas kota Jember

Jika menyebut kota Jember, pasti yang langsung terlintas di kepala kita adalah Kota Karnaval, Kota Tembakau, atau Kota Suwar-suwir. Ketiga julukan tersebut menurut saya sangat menggambarkan kota Jember. Tetapi perihal kuliner khas, dengan berat hati saya katakan "hampir tidak ada."

Argumen ini tentunya bukan tanpa alasan. Sebab Jember ini merupakan kota Pandhalungan yang warganya kebanyakan pendatang dari kota-kota lain. Sehingga kuliner di Jember semuanya mengadopsi dari kampung halaman para penduduknya. Saking beragamnya penduduk Jember, tidak jarang saya melihat tempat-tempat makan yang menunya berasal dari luar kota Jember. Sebut saja Bakso solo, Bakwan Malang, Soto Madura, Sate Madura, Soto Lamongan, Bebek Madura, Roti Bakar Bandung, dan masih banyak lagi.

Sebagai warga Jember tulen yang lahir dan besar di Jember, ini bikin saya sedikit kepikiran,"kok bisa sesulit itu sih, cari makanan yang khas Jember?" Ditambah lagi saya yang pecinta makanan bercita rasa 'asin; ini selalu penasaran perihal makanan gurih khas asli Jember nyell. Kok bisa kota sebesar ini nggak ada kuliner khas yang rasanya asin gurih, sih? Masa kalah sama Situbondo, mereka punya makanan khas Kotel dan Nasi Karak yang rasanya gurih asin.

Yang saya tahu, satu-satunya makanan khas kota Jember tidak lain dan tidak bukan adalah Suwar-suwir. Camilan manis mirip dodol yang terbuat dari tape. Setiap orang yang saya tanyai perihal kuliner gurih, jawabannya selalu berputar di Bakso Solo Sampurna dekat Johar Plaza, Soto Ayu di kompleks Pasar Tanjung, Soto Haji Syukri di seberang masjid Al-Huda, serta Pecel Gudeg Lumintu yang berada di Jalan Kertanegara. Yang mana menurut keyakinan saya,  makanan-makanan tersebut bukanlah makanan asli Jember. Semua makanan  yang saya sebutkan diatas lebih tepat disebut kuliner 'Legend' sebab semua kuliner tersebut telah buka jauh sebelum saya lahir. Baik soto, pecel, gudeg, dan bakso merupakan kuliner khas kota lain. Bukan khas Kota Jember.

Sebuah kuliner dikatakan khas apabila lahir atau diciptakan di wilayah tersebut. Untuk kota Jember yang penduduknya campur-campur dari berbagai wilayah dengan berbagai macam khas kuliner daerahnya masing-masing, pastinya sedikit sekali kuliner Jember yang dapat dikategorikan 'khas'.

Dengan berat hati, pertanyaan saya akan kuliner asin gurih khas Jember sepertinya akan sulit untuk terjawab. Rasa penasaran itu tetap berlanjut hingga saya memasuki dunia kerja. Kebetulan, banyak rekan kerja saya adalah perantau yang datang dari berbagai daerah diluar kota Jember. Saat ereka balik bertanya pada saya "makanan khas Jember selain suwar-suwir itu apa?" Saya selalu menjawab "Tidak tahu."

Untungnya pada tahun 2022 lalu, pertanyaan saya mulai terjawab. Saya sudah tau kuliner khas Jember selain Suwar-suwir. Ialah Tahu Kocek. Berupa tahu goreng yang diberi isian adonan tepung tapioka dan air kemudian dikukus hingga matang. Setelah itu, tahu isi 'aci' ini akan dipotong-potong, digoreng kering, dan diulek bersamaan dengan cabai rawit, micin, serta irisan kol atau kubis. Sepertinya makanan ini diciptakan oleh warga Madura 'swasta' di Jember. Sebab kata 'kocek' berasal dari bahasa Madura yang artinya 'ulek'. Entah bagaimana caranya, tiba-tiba makanan ini naik daun dan mulai dikenal banyak orang di Jember.

Untuk rasa, tentunya didominasi rasa asin dan pedas. Perpaduan tahu dengan isian aci membuat tekstur tahunya kriuk garing diluar dan kenyal chewy di dalam. Ditambah irisan kubis yang menambah tekstur rasa garing dan segar khas sayuran. Saya jamin sekali makan pasti bikin ketagihan. Siapa sih, yang bisa menolak sensasi gurih dan pedas? Dua rasa yang kalau berdiri sendiri saja sudah enak, apalagi dicombo!

Kalau kalian ke jember, nggak perlu bingung cari penjual tahu kocek ini. Sebab di seluruh sudt kota jember, pasti ada yang jual. Mulai dari orang Madura, orang Jawa, bahkan tetangga saya yang Tionghoa pun juga termasuk salah satu penjual Tahu Kocek. Rasanya Tahu Kocek ini sudah menjadi identitas alami kota Jember. Bahkan Suwar-suwir yang sudah eksis berpuluh-puluh tahun pun kalah pamor dengan si Tahu Kocek ini. Kalau suwar-suwir biasa jadi oleh-oleh khas Jember, tahu kocek lebih cocok jadi kuliner yang hukumnya wajib ‘ain dicobain kalau kalian main ke Jember. Ibarat kuliner Ketan Legenda yang biasa jadi jujukan kita kalau lagi ke kota Batu.

Tahu Kocek menjadi bukti bahwa diantara warna-warni penduduk jember. Mereka dapat menciptakan sebuah makanan yang ajaibnya dapat diterima semua orang dan semua kalangan. Bayangkan saja, di sekolah SD, SMP, SMA, maupun di kompleks perguruan tinggi di wilayah Jember selalu ada satu atau dua penjual Tahu Kocek yang stand by. bahkan saya yang seorang emak-emak pun juga doyan makan tahu kocek, hahaha.

Pada akhirnya pencarian saya dapat dikatakan terhenti. Pertanyaan saya telah terjawab. Ternyata makanan itu ada di sekitar saya. Identitas kuliner gurih khas Jember bukanlah makanan yang disajikan megah nan mahal,  tetapi berupa kudapan sederhana yang lahir dari para umkm pinggir jalan yang pembuatnya pun belum tentu penduduk asli Jember. Anehnya, makanan ini terasa Jember banget. Bahkan ketika penduduk kota sebelah seperti Bondowoso dan Situbondo ikut mengadopsi si Tahu Kocek ini sebagai salah satu ‘cemilan pinggir jalan’ disana, sayangnya Tahu Kocek milik Jember tetap jadi juaranya. Sebagai kiblat Tahu Kocek, Jember masih menang telak.


Komentar